Jakarta Story #1

September 05, 2018

Setelah sekian lama membiarkan diary online ini usang begitu saja. Tiba-tiba aku ingin mengisinya dengan seputar perjalanan selama liburan kemarin. Tepat satu minggu sebelum memasuki rutinitas kuliah kembali, kebetulan aku berkesempatan pergi ke Jakarta. Yak, pergi bersama dengan orang yang jumlahnya nggak sedikit-kurang lebih 30 orang-ternyata capek juga wkwk. Jadi, sebenernya kita ke Jakarta karena ada salah satu kerabat yang akan menikah. Tepatnya di daerah Jakarta Utara.

Senin, 6 Agustus sekitar jam 8 pagi, aku, adik, tante dan teman tante (sebut saja Bu Nenes) berangkat dari rumah Gresik ke stasiun Gubeng. Padahal tiket kereta masih jam 12 siang. Ya begitulah, kata beliau-beliau lebih baik nunggu lama daripada ketinggalan kereta. Pun, kita juga sebenernya harus ngurus pembatalan tiket 4 orang dari rombongan kami, jadi ya emang took time banget sih. Setelah sekian jam, akhirnya kereta berangkat juga. Ohya aku pake kereta Gaya Baru Malam Selatan, dan perjalanan Sby-Jkt bakal memakan waktu kurang lebih 15 jam. What a very long journey! As it took much time, so I decided to read a book that I brought, yaitu Mendengar Nyanyian Sunyi. Yak, buku yang mengulas suara-suara hati introver yang seringkali diabaikan. 


Kurang lebih jam 3 dini hari, kereta tiba di Stasiun Pasar Senen. Cukup melelahkan untuk ukuran orang yang jarang pergi jauh kayak aku. Akhirnya, setelah dijemput oleh beberapa saudara, kurang lebih jam 4, kami nyampe ke rumah, daerah Warakas, Jakarta Utara. Setelah makan dan bersih diri, shalat shubuh, dan berhubung kondisi badan emang lagi capek banget, aku memutuskan istirahat sejenak (read: tidur).

Kebetulan aku nginep di salah satu kamar kosan milik saudaraku bersama adik, tante, dan Bu Nenes. Hari pertama di Jakarta kami putuskan untuk jalan-jalan ke Mangga Dua dengan naik angkutan umum karena memang nggak mau ngerepotin yang punya hajat. Dari Warakas naik bemo M15 turun ke Terminal Tanjung Priok, oper kendaraan langsung menuju ke Mangga Dua. Setelah puas nganterin tante belanja. (Yak, aku dan adik hanya manut saja). Akhirnya kami putuskan pulang karena malam harinya ada acara walimahan untuk kelancaran akad nikah di keesokan harinya. Agak berbeda dengan budaya di Gresik sih, biasanya masyarakat kampungku, justru walimahan diadakan setelah akad, tapi yasudahlah. Wkwk.
salah satu sudut di depan Pasar Mangga Dua. 
Pagi harinya, Rabu, tanggal 8 Agustus, Alhamdulillah serangkaian acara akad nikah berjalan lancar. Semoga Mas Izul dan Mba Selvi Allah limpahkan keberkahan dalam rumah tangganya. Dimudahkan untuk mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah. Aamiin. Bener-bener momen haru banget, nggak ada yang nggak nangis, usai akad nikah diucapkan. Semuanya haru, hanyut dalam situasi ini.

momen akad nikah


To be continued.

You Might Also Like

0 komentar