Jakarta Story #2
September 05, 2018
Alhamdulillah acara akad nikah pun selesai. Since my aunty adalah perias pengantennya, so aku dan adik harus ikut ngebantuin nyiapin dan ngeberesin segala tetek bengeknya. The first job was finally done! Di hari sebelumnya antara aku, adik, dan tante sempet ada wacana buat ke Ancol. Then, akhirnya, kita ngajakin rombongan yang lain untuk bareng-bareng ke Ancol. Kami pun diantar oleh Bu Sri (saudaraku yang punya hajat), dengan naik 3 mobil. Maklum ya, total rombongan aja sekitar tiga puluhan.
![]() |
| tim perias |
Setelah menghadapi jalanan Jakarta yang padet dan rumit, akhirnya kami sampai di Ancol. Kebetulan sebelumnya aku emang belum pernah ke Ancol sih, cuma ke Dufan, itu aja waktu SMA pas acara sekolah. Kami masuk lewat Gerbang Timur. Ketua rombongan pada saat itu adalah tanteku. Setelah berdiskusi singkat, akhirnya kami memutuskan naik bus Wara-Wiri keliling Ancol. Sebenernya lebih ke pengen tau aja sih, ada wahana apa aja, beberapa di antaranya ada Gondola, dan bisa berhenti di Dufan juga. Kami mengakhirkan perjalanan Wira-Wiri di Pantai Ancol. Seperti biasa, nggak afdhol rasanya kalau nggak jepret-jepret. Meski panas-panas, karena memang siang bolong banget kami di pantai Ancol.
Setelah puas menikmati angin pantai di spot ini - yang cuma bisa dipake foto-foto. Akhirnya, kami melanjutkan perjalanan ke pantai lepas yang disitu kita bisa langsung ke bibir pantainya. Jarak dari spot ini ke bibir pantai lumayan. Di tengah perjalanan, banyak disuguhkan permainan kayak ayunan, dan alat olahraga lainnya. Lumayanlah, dan nggak bikin bosen.
Setelah puas menikmati angin pantai di spot ini - yang cuma bisa dipake foto-foto. Akhirnya, kami melanjutkan perjalanan ke pantai lepas yang disitu kita bisa langsung ke bibir pantainya. Jarak dari spot ini ke bibir pantai lumayan. Di tengah perjalanan, banyak disuguhkan permainan kayak ayunan, dan alat olahraga lainnya. Lumayanlah, dan nggak bikin bosen.
Karena ngelihat saudara-saudara yang kecil pada nyemplung dan renang. Aku dan adik pun ikutan kecek. Meskipun kami tau resikonya, rok kami bakal basah, tapi nggak apalah. Sekali-kali. Nanti juga kering wkwk. Kami pun menikmati air pantai dan semilir angin serta ngelihat lalu lalang kapal dari arah Pelabuhan Tanjung Priok. Kurang lebih sekitar satu jam setengah kami bersantai di pantai dan sembari mengeringkan rok yang terlanjur basah. Then, kami pun mencari mushola untuk shalat Ashar. Musholanya sederhana tapi menyamankan, meski harus wudlu di kamar mandi, karena tempat wudlu putri agak terbuka. Kamar mandinya pun bersih banget. Letak musholanya di deket bibir pantai di sisi yang lain. Jadi seger banget. Setelah shalat, kami melanjutkan perjalanan ke arah jembatan cinta. Pemandangan di sana bener-bener bagus banget. Terlebih langit yang warnanya mulai beragam karena semburat senja. Ditambah julangan gedung-gedung yang membumbui.
Sebenernya di Pantai Ancol sendiri banyak sekali wahana yang ditawarkan. Beberapa diantaranya adalah angsa dayung yang bisa dinaiki oleh dua orang, dan ada juga perahu yang bisa dinaiki beberapa orang. Untuk ukuran ibu kota, harga yang ditawarkan tergolong murah dan recommended banget untuk liburan keluarga. Setelah puas beristirahat di jembatan cinta, kami pun memutuskan untuk pulang karena hari sudah menjelang petang. As there is no saudara dari Jakarta yang ikut ke Ancol, so we were like blind travellers, ditambah jumlah rombongan yang nggak sedikit, jadi kudu bener-bener meminimalisir salah jalan. Akhirnya kurang lebih jam setengah lima lebih, kami naik bus Wara-Wiri yang emang udah penuh banget menuju ke Gerbang Barat. Bus pertama turun di Gondola, kami harus oper ke bus selanjutnya. Dan, ya, sama, bus kedua juga penuh dan berdesakan. Terlebih tiga puluh orang rombongan kami ini nggak boleh ada yang kepisah. Kami pun segera keluar ancor dan nyari carteran dua angkutan umum menuju ke Warakas. What a fun journey! :D
Sebenernya di Pantai Ancol sendiri banyak sekali wahana yang ditawarkan. Beberapa diantaranya adalah angsa dayung yang bisa dinaiki oleh dua orang, dan ada juga perahu yang bisa dinaiki beberapa orang. Untuk ukuran ibu kota, harga yang ditawarkan tergolong murah dan recommended banget untuk liburan keluarga. Setelah puas beristirahat di jembatan cinta, kami pun memutuskan untuk pulang karena hari sudah menjelang petang. As there is no saudara dari Jakarta yang ikut ke Ancol, so we were like blind travellers, ditambah jumlah rombongan yang nggak sedikit, jadi kudu bener-bener meminimalisir salah jalan. Akhirnya kurang lebih jam setengah lima lebih, kami naik bus Wara-Wiri yang emang udah penuh banget menuju ke Gerbang Barat. Bus pertama turun di Gondola, kami harus oper ke bus selanjutnya. Dan, ya, sama, bus kedua juga penuh dan berdesakan. Terlebih tiga puluh orang rombongan kami ini nggak boleh ada yang kepisah. Kami pun segera keluar ancor dan nyari carteran dua angkutan umum menuju ke Warakas. What a fun journey! :D





0 komentar